banner 300x30 banner 300x30

P3A Boltim Dampingi 10 Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan KDRT

P3A Boltim Dampingi 10 Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan KDRT
Hj Rahmi Kiky Olii

BOLTIM – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A). Bersama Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2a). Bolaang Mongondow Timur (Boltim) tangani sekitar 10 Kasus Kekerasan terhadap anak, Seksual maupun kekerasan terhadap perempuan, selama Januari hingga Mei 2020.
Adapun Kasus yang di dampingi, adalah Delapan kasus Pencabulan, dan Penganiayaan terhadap Anak, sementara Dua Kasus Kekerasan terhadap Perempuan, yakni KDRT, dan Pelecehan Seksual. Dari total kasus tersebut, baru satu yang selesai di dampingi, sementara sisanya masih dalam tahap proses penyidikan tahap satu dan dua.
Tujuan Pendampingan yang diberikan oleh Dinas terkait, adalah agar kasus dapat berjalan dengan baik, dan korban bisa didampingi oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Diantaranya Pendampingan Hukum, yang dimulai dari proses laporan sampai pada persidangan, Pendampingan di segi Kesehatan, termasuk visum, hingga pendampingan Psikologis, untuk Asesmen atau terapi.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Boltim melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Penanganan Kekekrasan Terhadap Perempuan dan Perlindungan Anak, Hj Rahmi Kiky Olii, S.Psi, saat diwawancarai media ini mengaku, jika hingga saat ini Kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bolaang Mongondow Timur dalam pendampingan. Dia menjelaskan jumlah data kasus yang sedang di Dampingi P3a dan P2TP2a Boltim. “Data Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang ditangani sejak januari hingga mei 2020, sebanyak 8 kasus kekerasan terhadap anak berupa pencabulan dan penganiayaan, serta dua kasus kekerasan terhadap perempuan berupa KDRT dan pelecehan seksual,” kata Rahmi.

Dia menjelaskan, Tujuan maupun proses pendampingan yang diberikan kepada korban, untuk mendapatkan hak. “Kami mendampingi korban mulai dari segi kesehatan, mendampingi saat visum. Pendampingan hukum, mulai dari proses laporan sampai persidangan. serta pendampingan Psikologis, untuk asesmen dan terapi terhadap korban,” tambahnya.
Kepala Bidang DP3a sekaligus Sekretaris P2TP2a Boltim ini juga menjelaskan penyebaran kasus yang terjadi di Boltim untuk tahun ini mengalami peningkatan. “Kasus yang ada tersebar di Kecamatan Tutuyan, Kotabunan, Nuangan dan Modayag Barat. Paling banyak terdapat di wilayah Kotabunan, kasus terjadi akibat kurangnya pengawasan orang tua,” ujarnya.
Dia mengaku jika kekerasan terhadap anak di tahun ini, didominasi oleh para pelaku yang cukup dekat dengan korban. “Para pelaku kekerasan terhadap anak, didominasi oleh orang orang terdekat, misalnya Ayah tiri, Paman, Pacar Tetangga, sehingga ini yang harus diwaspadai oleh orang tua dan pemerintah desa,” tegasnya.
Sehingga melalui kesempatan ini dia mengimbau warga masyarakat, untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak di rumah, maupun pemerintah desa, diharapkan ada peraturan yang mengikat, demi masa depan generasi serta mengurangi kriminalitas. “Diimbau kepada masyarakat, maupun Pemerintah desa, bahwa tahun ini kekerasan terhadap anak ada sedikit peningkatan, dari tahun sebelumnya. Ini disebabkan karena kurangnya pengawasan orang tua kepada anak-anaknya, pengawasan baik secara fisik maupun mental. Anak-anak dengan bebasnya diberikan gadget, sehingga lebih sering terpapar konten-konten yang tidak layak bagi anak. Demikian juga dengan pemerintah desa, maupun pemerintah kecamatan, harus ada peraturan desa, maupun kecamatan, yang membatasi penggunaan gadget bagi anak anak, dan penggunaan jam malam agar anak anak dapat di kontrol,”tutupnya (*)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses